Tampilkan postingan dengan label iwan fals. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iwan fals. Tampilkan semua postingan

Internet Bisa Menjadi Dajal Net, Tergantung Penggunaan



Aku kecanduan internet twiter facebook dan mbah google

Belum lagi youtube dan you ssst... Lalu situs-situs lainnya Bangun tidur tidur lagi Mencet sana mencet sini
Sudah nggak peduli lagi dengan yang lain Kerjaan berantakan Kewajiban melayang Sakit pinggang leher dan
mata Duh kasihan deh aku Ketawa-ketawa sendiri Sedih-sedih, sedih sendiri Marah-marah, marah sendiri, ya sendiri Gila kok bisa seperti ini ya Drakula pulsa cekikian Sambil menyedot darah pelanggan Dan darahku yang pas-pasan Memang teman semakin banyak Teman yang sama-sama gendeng Internet dekatkan yang jauh
Internet menjauhkan yang dekat Otakku kutitipkan disitu Jadi malas mengingat, malas belajar Toh semuanya ada disitu Ayo mau tanya apa ayo tinggal klik Mbah google bisa menjawabnya Sama seperti yang lain Hobiku jadi suka nunduk Di halte di pasar Di rumah ibadah Di rumah sakit di sekolah Bahkan di sidang parlemen Pun orang-orang pada menunduk Oh ilmu padi rupanya Semakin berisi semakin merunduk Informasi dalam hitungan detik Berita tinggal pilih aje Semua orang jadi pandai nyontek Ya nyontek Teknologi komunikasi koq jadi tak bisa komunikasi Lha sudah pada tau semua kan orang jadi malas berbicara Ketawa-ketawa nggak jelas Sedih-sedih, sedih nggak
jelas Marah-marah, marah nggak jelas Nggak jelas Semua kesedot ke layar itu Layar peradaban Yang sudah dijanjikan Seperti dajal dengan matanya yang satu itu Semuanya pergi menuju kesitu.

Demikianlah sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Memang kalau kita lihat fenomena sekarang ini, Internet sepertinya sudah menjadi tren masa kini, dan sudah menjadi kebutuhan. Setiap orang pasti membutuhkan Internet untuk berbagai macam kebutuhan, ada yang sekedar mencari teman dijejaring sosial, ada yang mencari barang-barang, mencari informasi bahkan bisa juga mencari jodoh di Internet. Internet bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda, bisa berakibat buruk bagi kehidupan manusia tapi juga bisa memberi manfaat kepada manusia, tergantung bagaimana kita menggunakan Internet dengan bijak.

Sisi Negatif: Banyak situs-situs porno yang mempertotonkan perbuatan mesum dua insan manusia sedemikian bebasnya dampaknya dimasyarakat banyak tindakan-tindakan kriminal perkosaan ditengah masyarakat akibat video-video porno tersebut dan juga banyak remaja-remaja kita yang melakukan hubungan seks diluar nikah, ini sebuah petaka bayangkan bila perzinahan sudah menjadi hal yang biasa dikalangan remaja! Bagi orang yang sudah sangat kecanduan Internet, dampak buruk lainnya adalah orang jadi malas mengerjakan sesuatu karena seluruh waktunya hanya didepan komputer dan layar hp, enggan bersosialisasi di kehidupan nyata hanya mau bersosialisasi di dunia maya yang lebih banyak fatamorgananya ketimbang nyatanya. Selain itu banyak juga kasus-kasus penipuan yang dilakukan di Internet dan lain sebagainya.

Sisi Positif: Internet bisa kita jadikan sebagai tempat untuk menyalurkan ide-ide kreatif kita yang tentunya positif dan bermanfaat untuk orang lain, seperti bagaimana caranya membuat sesuatu yang berguna untuk kehidupan Individual atau mencari ilmu yang di butuhkan. Segala macam informasi bisa kita dapatkan di Internet, bisa juga membuka usaha marketing, penjualan produk-produk yang kita punya/memasarkan produk dengan membuat sebuah toko online misalnya. Kita bisa juga loh menjadi terkenal melalui Internet dengan ide-ide kreatif kita, seperti membuat video youtube atau membuat website yang terkenal dan mendunia. 

Demikianlah sebuah tulisan yang keluar dari kepala saya tentang Internet, kurang lebihnya saya mohon maaf.

Rayuan maut ala bang Iwan.

Iwan Fals bukan hanya bisa membuat lagu kritik, tapi dia juga pakar dalam lagu bertema cinta. Namanya juga manusia yang diberi kelebihan mencintai pasangannya, apalagi sebagai seorang seniman hampir mustahil tidak membawa perasaan cinta dalam karya-karyanya. 
Tapi lagu cinta Iwan Fals bukanlah lagu cinta kebanyakan seperti yang sering kita dengarkan. Lagu cinta Iwan Fals kadang ‘nyeleneh’ dan menggunakan rangkaian kata yang tidak lazim. Beberapa lirik lagu cinta Iwan Fals bahkan hampir tidak masuk akal untuk diaplikasikan sebagai rayuan cinta kepada pasangan. Namun itulah seorang Iwan Fals yang namanya dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu bertema kritik. Tema lagu cinta ala Iwan Fals sebagian adalah tema cinta gaya jalanan yang tidak sekedar mengobral rayuan setinggi langit, tetapi berbicara mengalir apa adanya. 
Berikut Sembilan Rayuan Cinta Ala Iwan Fals dari berbagai lirik lagu Iwan Fals yang telah kami rangkum.

9 Rayuan Cinta Ala Iwan Fals

1.    Iblis Kok Baik Hati?

Kalimat ini ada dalam lirik lagu 22 Januari dari album Sarjana Muda yang rilis tahun 1981. Pada lagu ini Iwan Fals menulis bahwa pada tanggal 22 Januari dia tidak sendiri lagi sebab telah berteman/berpacaran/komitmen saling mencintai dengan iblis yang baik hati. Maksud iblis disini adalah pasangannya. Tapi pasangannya kok disebut iblis ya.. hehe. 
Coba sebut pasangan Kamu dengan panggilan Iblis, bagaimana responnya. Kalau dia adalah penggemar Iwan Fals atau pernah dengar lagu ini mungkin bisa memahami, kalau tidak ya paling-paling kena gampar... hehehe...
Dua dua Januari tidak sendiri... Aku berteman iblis yang baik hati...
Lirik lengkap lagu 22 Januari

2.    Meludahi Muka dan Mencongkel Bola Mata

Lagu Maaf Cintaku dari album Sugali tahun 1984 mungkin adalah lagu cinta paling sadis dari Iwan Fals. Bayangkan untuk mengatakan bahwa pasangannya begitu cantik, Iwan Fals ingin meludahi dulu wajah belahan jiwanya dan bayangkan pula untuk mengatakan indahnya mata kekasihnya, Iwan Fals sampai ingin mencongkel keluar mata pasangannya. Kalau mengatakan hal ini kepada yang disayang, mungkin kekasihmu bakal ketakutan menganggap Kamu sakit jiwa dan urusannya bisa panjang sampai ke polisi. Tapi tentu beda kalau kekasihmu suka lagu-lagu Iwan Fals, dia mungkin merasa tersanjung. 
Rayuan ‘gila’ model ini kenyataannya sering dipakai penggemar Iwan Fals, dan sampai sekarang belum ada laporan ancaman kekerasan karena terinspirasi lagu ini... huhuhu...
Ingin kuludahi mukamu yang cantik... Agar kau mengerti bahwa kau memang cantik... Ingin kucongkel keluar indah matamu... Agar engkau tahu memang indah matamu...
Lirik lengkap lagu Maaf Cintaku


3.    Kembang Pete dan Batu Akik

Untuk mengungkapkan perasaan cinta umumnya kita memberi bunga mawar atau cincin berhias berlian. Tapi Iwan Fals memilih setangkai kembang pete dan batu akik. Lagu Kembang Pete yang ada pada album KPJ tahun 1985 menjadi sindiran bagi kaum berada coba mengingatkan bahwa cinta itu milik siapa saja. Kembang pete mudah diperoleh dan batu akik kelas pinggir jalan murah harganya. Dua item ini cukup bagi Iwan Fals untuk dijadikan persembahan cintanya yang dalam lagu ini dia mengatakan cintanya adalah cinta jalanan. 
Dalam lagu ini Iwan Fals dan kelompok KPJ masih menyisipkan kritikan meski tema utamanya lagu cinta. Seperti bait yang mengatakan ‘kalau diantara kita jatuh sakit/lebih baik tak usah ke dokter/sebab ongkos dokter disini/terkait diawan tinggi’ dan juga tentang himbauan agar tidak membuat uang palsu. 
Kembali tentang rayuan cinta, faktanya ada juga beberapa penggemar Iwan Fals yang memberikan kembang pete dan batu akik kepada pasangan yang dicintai. Tentu saja pasangannya sudah paham, kalau tidak mengerti ya mungkin malah dianggap pelit... hahaha...
Kuberikan padamu setangkai kembang pete... Tanda cinta abadi namun kere... Kuberikan untukmu sebuah batu akik... Tanda sayang batin yang tercekik...
Lirik lengkap lagu Kembang Pete

4.    Bibirnya Dilumat Habis

Mungkin ini lagu cinta Iwan Fals yang agak vulgar sebagian liriknya. Lagu Aku Antarkan dari album Sore Tugu Pancoran tahun 1985 ini berkisah tentang lelaki yang mengantarkan pulang pasangannya setelah seminggu lamanya bersama. Tak terasa seminggu sudah waktu berlalu dan entah mereka ngapain saja... mungkin jungkir balik atau panjat tebing.. hehehe. Yang jelas pada liriknya dalam seminggu lelaki itu telah habis melumat bibir pasangannya. Dan hebatnya, pasangannya tak bosan meminta ciuman itu, wow. 
Naah, jangan ngeres dulu dan langsung memvonis ini lagu tentang pasangan kumpul kebo. Iwan Fals pada saat lagu ini dirilis kayaknya telah menikah resmi, Iwan Fals nikah umur 19 tahun. Jadi mungkin lagu ini berkisah tentang pasangan sah suami istri yang sudah tentu halal saling melumat bibir. Pertanyaannya apa nggak sariawan ya seminggu penuh bibir diulek-ulek gitu yang pastinya bibir jadi memble. 
Bagi yang kepingin lumat-melumat kalau belum jadi pasangan yang sah jangan asal nyosor, zina itu haram hukumnya. Nikah resmi dulu Bro/Sis, dijamin lebih enak lumatannya serta nggak dapet dosa malah dapet pahala... yahuhu...
Tak terasa seminggu... Rakus kulumat bibirmu... Tak terasa seminggu... Tak bosan kau minta itu...
Lirik lengkap lagu Aku Antarkan


5.    Sekarang Cinta, Entah Esok Hari atau Lusa Nanti

Mungkin inilah lagu cinta Iwan Fals yang liriknya paling jujur. Disaat kebanyakan dari kita bergombal-gembel-ria dengan mengatakan aku cinta kamu sampai mati, cinta sampai kiamat dan sebagainya, Iwan Fals tidak. Dalam lirik lagu Entah dari album Ethiopia tahun 1986 Iwan Fals justru berkata ‘Aku cinta kau saat ini (tapi) entah esok hari atau lusa nanti”. Jujur banget kan?. 
Coba praktekan lirik Iwan Fals ini kepada pasanganmu, mungkin dia akan semakin sayang atau bahkan malah melengos dan nangis guling-guling di trotoar, hehehe. Tapi jangan sok jaim lah, hayo ngaku saja kadang ada suatu waktu dimana kadar cinta kita kepada pasangan berkurang. Itu lumrah, manusia tidak ada puasnya. Tapi ya jangan lama-lama bisa jadi masalah nantinya. Lirik Iwan Fals ini jujur sekali, tapi kita bisa ambil positifnya saja deh. Jangan selalu menganggap esok hari lantas tidak lagi mencintai pasangan, tapi jadikan esok hari atau lusa nanti semakin cinta. Nah, beres kan... hohoho...
Seperti biasa aku tak sanggup berjanji... Hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini... Entah esok hari... Entah lusa nanti... Entah...
Lirik lengkap lagu Entah


6.    Wajah Cukup Lumayan Cuma Dapat Poin Enam

Pada lirik lagu Aku Sayang Kamu dari album berjudul sama yang rilis tahun 1986 penuh berisi rayuan-rayuan gombal tingkat tinggi. Meskipun lirik lagu ini terasa lebay namun Iwan masih berusaha mengimbangi supaya gombalannya tidak overdosis. Pada bagian akhir lagu, Iwan Fals masih bisa jujur mengatakan wajah pasangannya cukup lumayan dan dapat poin enam. 
Kalau kita sih biasanya mengatakan wajah pasangan kita cantik/tampan seperti bintang film, kalau diberi nilai ya delapan atau sembilan bahkan sepuluh alias tanpa cacat. Pasangan yang dapat rayuan gombal semacam ini pasti melayang dan jadi percaya diri meski wajahnya tak beda jauh dengan sepatu boot... hihihi...
Wajah cukup lumayan dapat poin enam... Kalau nona berjalan rembulan pun padam...
Lirik lengkap lagu Aku Sayang Kamu


7.    Buku Pinjam Malah Dicorat Coret

Lagu Buku Ini Aku Pinjam dari Iwan Fals terasa sekali gaya percintaan pada tahun 80-an. Lagu yang ada dalam album 1910 tahun 1988 ini berkisah tentang gaya pacaran anak sekolah pada masa itu. Kenalan di depan kantin, menunggu di halte bus untuk pergi kencan sepulang sekolah, benar-benar gaya tahun 80-an atau mungkin sampai kini ya? entahlah. 
Yang kita tahu kalau sekarang sih kenalan itu banyaknya di mall atau lewat social media internet. Mau kencan ya janjian ketemu di cafe biar nggak ketahuan kalau berangkatnya nebeng truk pasir, begitu duit pasangan habis ya sudah ditinggalkan cari mangsa baru, hehe.. nggaklah itukan kerjaan orang sakit. Dan yang menarik dari lagu ini adalah tentang dipinjamnya buku pasangannya untuk dituliskan sajak indah didalamnya. Wow, yang bikin iwanfalsmania.com dulu juga begitu bro/sis, dan hasilnya diomeli dan malah dicuekin... hahaha.. buku bagus-bagus kok dicorat-coret. Kalau sekarang cukup kirim sajak rayuan via sms sambil tiduran atau sambil setor di wc, sekali ketik rayuan langsung dikirim ke beberapa orang buat cadangan... hehehe...
Buku ini aku pinjam... Kan kutulis sajak indah... Hanya untukmu seorang... Tentang mimpi mimpi malam
Lirik lengkap lagu Buku Ini Aku Pinjam


8.    Banyak Uang Cinta Datang

Masih dari album yang sama 1910 tahun 1988, dalam lagu Pesawat Tempur Iwan Fals menggabungkan lirik kritis bersanding dengan tema cinta. Disini Iwan Fals memposisikan dirinya sebagai lelaki yang tidak punya uang tapi tetap semangat mengejar cinta seorang wanita. Dan lagi-lagi Iwan Fals mengungkapkan kenyataan yang ada di masyarakat pada umumnya. Bukan hanya di tahun 80-an seperti saat lagu ini rilis, tapi rupanya sampai sekarang dan sepanjang masa. 
Simak lirik ‘kalau saja aku bukanlah penganggur/sudah kupacari kau’. Paham kan maksudnya. Banyak dari kita yang tidak percaya diri mengejar cinta seseorang hanya karena tidak punya materi yang bisa ditonjolkan. Dengan kata lain wanita dianggap lebih mau dipacari oleh lelaki yang berduit meski wajah lelaki itu mirip wajan teflon atau panci bakso (dalam lagu ini objeknya adalah wanita, jangan marah ya sis). Dan Iwan Fals mengkritik tentang perang yang memakan banyak biaya, dia bilang kalau dana perang untuk dirinya maka wanita incarannya akan datang bukan untuk senyum saja. Wah, trus si cewek itu mau ngapain lagi, Wan.. apa ngajak main monopoli? gawat... hahaha...
Oh oh ya andaikata dana perang buat diriku... Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum...
Lirik lengkap lagu Pesawat Tempur

9.    Laki-Laki Normal Itu Menyukai Wanita

Bersyukurlah bangsa Indonesia memiliki penyanyi Iwan Fals yang statusnya normal. Iwan Fals bisa dipastikan bukan maho, homo, gay dan istilah-istilah sebangsanya.. hehehe. Selain statusnya sudah dibuktikan dalam keseharian, Iwan Fals juga menegaskan kalau dia lelaki asli bukan kw dalam lagu cintanya yang berjudul Ya Atau Tidak. Lagu cinta ini ada dalam album Belum Ada Judul tahun 1992. 
Lirik lagu ini berkisah seputar rayuan Iwan Fals kepada kekasihnya yang mungkin saat itu lagi ngambek dan puasa bicara. Setelah dirayu sedemikian rupa masih saja tidak berhasil membuatnya bicara. Dan diakhir lirik, Iwan Fals menegaskan kalau dia lelaki tulen. Ah, mungkin saat itu Iwan Fals dituduh maho oleh istrinya kali ya, gan? Hahaha... entahlah ini cuma halusinasi ane saja, maaf ya mbak Yos... hahihuheho...
Tak aku pungkiri aku suka wanita... Sebab aku laki laki masa suka pria...
Lirik lengkap lagu Ya Atau Tidak









Sumber: falsmania.com

Galang Rambu Anarki - Putra pertama Iwan Fals

KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).
Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.
Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!
Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”
“Terus maunya apa?”
“Embuh, main musik atau buka bengkel.”
Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.
Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.
Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”
“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.
Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.
Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.
Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.
“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.
Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.
Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.
Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.
Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.
Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.
Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.
Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum … Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.
Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.
“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.
Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.
Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”
Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.
Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.
Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.
Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”
Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.
Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.
September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.
Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”
Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”
“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”
Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.
“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak, “Hoooooooaaaaah ….”
Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa.


Sumber: AREMANIA

Iwan Fals dimata putrinya Cikal Rambu Basae

Usai menonton, Cikal mengaku merasa senang melihat penampilan ayahnya itu.

"Kalau aku sih yakin penampilan papa pasti bagus," ujar gadis berusia 21 itu seraya tersenyum.

Di film garapan Wisnu Adi itu, Iwan Fals tampil sebagai penyanyi kafe. Ia mengaku kedatangannya ke situ pun bukan karena ajakan sang papa, tapi kemauannya sendiri.

"Aku memang sempat penasaran seperti apa sih peran papa di film itu," ungkapnya.

Karenanya, ia memang datang tak bersama keluarganya, tapi bersama kerabatnya. "Kalau papa datangnya sama mama dan Rayya (adik Cikal)," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Cikal membantah kalau banyak penggemar Iwan Fals berpendapat bahwa penyanyi itu kini dianggap bukan penyanyi pemberontak lagi, sebab lebih sering menyanyikan lagu cinta.

Cikal mengungkapkan, "Papa sampai sekarang masih suka mengkritik sebenarnya. Dia masih sering kritik kok persoalan di negeri ini. Biasanya kalau abis baca koran atau nonton televisi, dia sering kritik tuh kalau ada omongan pejabat nggak benar," ungkapnya seraya tertawa.

Tapi kalau sang papa kini terlihat lebih kalem, kata Cikal, mungkin karena Iwan memang sedang menikmati hidupnya yang tenang.

"Jadi bukan karena ingin cari uang semata kalau ia menyanyikan lagu-lagu cinta. Papa gitu, hidup susah sih enjoy aja dia. Tapi mungkin dengan membawakan lagu cinta ia merasa lebih tenang," ujar Cikal yang kabarnya akan mengeluti dunia akting.

Dalam kesempatan itu, Cikal mengungkapkan ia merasa beruntung punya ayah seperti Iwan Fals. "Orangnya nyantai banget. Aku sama dia seperti teman saja. Dia juga tidak pernah memaksa aku jadi apa, bebas saja apa yang aku anggap baik," ujar Cikal yang kabarnya bakal terjun ke dunia hiburan itu.

Ia juga merasa senang dengan penampilan ayahnya yang sekarang terlihat rapi. "Aku senang kalau papa rambutnya pendek. Kalau gondrong aku nggak suka. Makanya kalau gondrong aku sering kritik dia, abis suka malu sama orang-orang," ujarnya tersenyum.

Sumber: inilah.com

Iwan Fals Menanam pohon dilingkungan pesantren.

Bagi musisi yang peduli lingkungan itulah Iwan Fals. Saat mengunjungi Buntet Pesantren dalam perjalanan sepiritualnya, beliau menargetkan 99 ribu penanaman pohon di Pesantren. Bersama warga masyarakat, pecinta lingkungan, para santri beramai-ramai menyambut kedatangna beliau dan ikut serta menanam ribuan pohon. 


Musisi Iwan Fals bersama Dr. Al Zastrouw Ngatawi menargetkan untuk menanam 99 ribu pohon di lingkungan pondok pesatren (pontern) di kota-kota yang mereka singgahi. Penanaman pohon tersebut dipadukan dengan acara perjalanan spiritual Iwan Fals bersama kelompok musik Ki Ageng Ganjur yang telah berkeliling Indonesia sejak enam bulan silam. Selain Iwan Fals, hadir sebagai nara sumber dalam dialog tersebut, Wakil Bupati Ojang Sohandi dan DR. Al Zastrouw Ngatawi. Acara tersebut dipadati oleh sejumlah eleman masyarakat subang sepereti Wakil Ketua DPRD H. Oman Warjoman, Kepala Dinas Linglungan Hidup, Aminudin, Kepala BIdang UMKM Dinas Koperasi, Hj, Yeni Nuraeni, para santri, dan anggota Orang Indonesia (kelompok pencinta Iwan Fals-Red).

Menurut Iwan, Kota Subang merupakan persinggahan konsernya yang ke 37 dari 99 kota yang direncanakan. “Dalam satu kesempatan singgah, kami telah menanam 1000 pohon per Kota yang diarahkan ditanam di lingklungan pesantren,” kata dia.

Dikatakan juga, dalam perjalanan konsernya kali ini, Iwan sengaja menyinggahi pondok pesanteren. Tujuannya adalah agar masyarakat Indonesaia terutama kalangan kaula muda lebih mengenal Pontren dan bahkan mencintai lembaga pendidikan tradisional tersebut. “Kmi ingin membangun kebiasaan baru yang sebenarnya telah diajarkan oleh para orang tua kita,” ujar Iwan.

Meurut dia, setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan budaya local masing-masing. Budaya lokal itu tenyata mampu membentuk karakter moral masyarakat Indonesia.
“Kearifan local yang saya dapat dari Kab. Subang adalah semangat gotong royong. Hal ini pula yang perlu dipupuk dan dibangun kembali,” kata dia.

Dikatakan, kearifan lokal sekarang ini sudah mulai tergusur oleh budaya yang berasal dari luar. Salah, satu contoh, semangat gotong royong telah luntur oleh sikap individualistis. “Masyarakat Indonesia kini lebih suka berjalan-jalan ke mall ketimbang mengaji di rumah,” kata dia.

Iwan mengaku, dari perjalanan spritualnya itu, dirinya banyak menimba pelajaran untuk dijadikan sebagai pegangan hidup ke depan. Bahkan dia, mengaku telah menciptakan lagu baru tentang kehidupan di pondok pesantren yang telah ia singgahi.

Dikatakan, pada tiap pelaksanaan konsernya, dirinya membawakan lima hingga enam lagu. Pada masing-masing lagu yang disajikan, maknany akan dibeberkan oleh Dr Al Zastrouw Ngatawi, yang dikenal sebagai intelektualis NU itu.


Sumber: buntetcirebon.blogspot.com

Kenangan Ibunda Iwan Fals mengenai Iwan fals

Kenangan Nyonya Lis mengenai Iwan Fals , yang masa kecilnya dipanggil Tanto.
Tanto selalu menangis setiap suara adzan bergema,yang waktu itu usianya baru tiga bulan
Kebetulan saat itu rumah kami memang dekat masjid,jadi kalau ada orang adzan pasti terdengar ,semula saya pikir dia hanya kaget saja tapi setelah saya perhatikan ,lama lama
ko bener dia selalu menangis sesegukkan dikala adzan bergema. Sejak itu saya mempunyai harapan besar terhadap anak itu.
Kenangan Nyonya Lis mengenai Iwan Fals , yang masa kecilnya dipanggil Tanto.
Tanto selalu menangis setiap suara adzan bergema,yang waktu itu usianya baru tiga bulan
Kebetulan saat itu rumah kami memang dekat masjid,jadi kalau ada orang adzan pasti terdengar ,semula saya pikir dia hanya kaget saja tapi setelah saya perhatikan ,lama lama
ko bener dia selalu menangis sesegukkan dikala adzan bergema. Sejak itu saya mempunyai harapan besar terhadap anak itu.
Sebuah rumah yang terletak di jalan Masjid al Barkah no 45 dibilangan Tebet Jakarta selatan inilah Haryoso dan Lies tinggal , dikaruniai empat orang anak , keluarga ini bisa dibilang berkecukupan , apalagi Haryoso adalah seorang Perwira Tinggi , tentu urusan ekonomi keluarga itu berkecukupan.
Tahun 1961 ,tanggal 3 september , Haryoso dan Lies di karuniai seorang putra yang diberi nama Virgiawan Listanto dengan panggilan sehari hari Tanto , dikalangan keluarga Tanto dibilang pendiam sekaligus bisa menjaga nama baik keluarga .
Tanto kecil dimasa anak anak sdah terbiasa hidup dalam situasi social dimana ibundanya mempunyai banyak anak asuh , mereka dianggap adik adiknya sendiri mungkin sentuhan dan lingkungan seperti ini yang membentuk karakter Tanto menjadi peka pada persoalan manusia .
Dia tak banyak omong , bahkan kalau ngomong berhadapan dengan ibunya .Tanto tak mau menatap ibunya , dia lebih banyak menunduk dari pada bertatapan, dia begitu sangat menghargai ibunya , dihadapan sang ibu dia tidak berani berkata tidak walau mungkin hatinya mengatakan tidak tapi tak pernah terucap.
“ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku saying masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah ,penuh nanah
seperti udara kasih yang kau berikan
tak mampu ku membalas…ibu…ibu “
cukilan lirick satu lagu …Tanto yang sekarang sering kita kenal Iwan Fals sangat jelas begitulah Ibu dihatinya …………
Tujuh tahun berselang 1968 , Tanto masuk Sekolah Dasar, tak lama kemudian dikirim ibunya ke Arab Saudi tepatnya di Jeddah ia ikut KBRI selama sembilan bulan karena merasa tak betah akhirnya ia pulang ketanah air . dia di Jedaah diangkat anak oleh seorang Familli dari Ibundanya . dalam dunia olah raga Tanto sangat mennyukai SEPAK BOLA dan KARATE . pernah satu kali dia menjuarai tingkat SD se DKI kejuaraan Azdan , “ kalau azdan suaranya enak didengar , ia sangat meresapi “ puji Ibundanya satu ketika
Pelajaran agama Islam memang ditanamkan kuat oleh ibunya kepada anak anaknya termasuk Tanto ,ibunya sengaja memanggil guru untuk memberi pelajaran mengaji gurunya waktu itu bernama Al-Faridzi
Harapan Ibu dan ayahnya Tanto menjadi Insinyur Perminyakan , menjelang dewasa Tanto mulai jauh dengan ayahnya dia mulai enggak cocok , tapi jika ada masalah dia selalu mengadu pada ayahnya dulu. Baru ayahnya cerita pada ibunya , bagi Nyonya Lies dalam diri Tanto tidak ada yang namanya protes atau marah .Kalau tidak ada yang disetujuinya ea langsung nyelonong pergi .Tak banyak omong malah kalau tak perlu .dia tidak omong sama sekali .
Tanto lebih suka menjauh dari orang tuanya dalam artian mungkin untuk hidup mandiri dan tak mau terlalu terikat dengan banyak peraturan untuk itu di tahun 1970 tanto mulai sekolah SMP di kota kembang dimana kelak Kota ini sebagai cikal bakal masuk ke dunia seni SMP V BANDUNG disini Tanto bersekolah , satu hal mungkin Tanto dalam menginjak dewasa ingin menghirup udara bebas tanpa ada sesuatu yang mengekangnya , di bangku SMP boleh dibilang sekolahnya ga beres sampai dia dipindahkan Ke kota Gudeg Jogya dan akhirnya Ke Bandung lagi .
Walau belum begitu menguasai acoord gitar yang bagus Tanto sdah mulai menciptakan lagu sendiri, lagu pertama nya di beri judul AKU DAN SEKOLAH , lagu ini bercerita tentang seorang murid dan gurunya , waktu itu Tanto bersimpatik dengan salah satu murid wanita teman sekolahnya , karna satu hari seorang murid wanita ini bersekolah dengan dadandanan yang mencolok dan bergincu murid ini kena damprat gurunya, Maka disuruhnya murid ini mengambil air di ember untuk dibawa kekelas didepan teman temannya ibu guru tadi membersihkan dandannan murid wanita tadi sambil mengomel ,hingga murid wanita itu tersipu malu hingga meneteskan air mata menerima perlakuan begitu dari ibu gurunya , pada mulanya AKU DAN SEKOLAH berisikan sindiran tentang kesewang wenangan ibu guru dalam menghukum muridnya
“selamat malam kota kembang , dengan penontonnya yang auzubillah syetan “ cukilan lirick ini adalah salah satu lagu yang tak dikasetkan yang diberi judul SITI SANG BIDADARI
Kota Bandung sebagai awal mulainya ngamen …umur 13 tahun Tanto mulai mengamen di Bandung , alasannya mudah saja sebagai anak muda pingin beli rokok .pingin ngeceng juga seperti anak muda lainnya otomatis butuh duit , mengandalkan kiriman orang tuanya bagi dia amat kurang ,maka ngamenpun jadi pelariannya , denga gitar dan harmonica yang melilit lehernya maka dimulailah awal ngamen …
Dibilangan dago ,Tanto yang beranjak dewasa kos sendirian, orang tuanya tinggal di Jakarta, mulanya dia bingung ada beberapa pilihan apakah akan ngamen dari rumah kerumah atau Restoran .jelang malam ia kurang bisa tidur , untuk itu dia memutuskan untuk ngamen dari rumah kerumah , malam itu dengan kaos oblong dan sepatu butut dia memutuskan untuk mengamen , keesokkan harinya ia mulai menempatkan jalan Dago dengan penampilan yang unik dia mengamen sambil menyembunyikan wajahnya dengan tempat kukusan nasi yang diberi dua lubang untuk matanya, maka terdengarlah lagu lagu Bob Dylan idolanya disamping lagu lagu ciptaanya , tak jarang uamg logam 10 perak, Rp 25, Rp 50,- diterimanya satu hari dia sampai mendapatkan Rp 5000,- kadang Rp 2000,- hingga Rp 300,- pernah ia terima , uang ngamen ini dia gunakan untuk jajan, dan beli sepatu serta tali gitar hingga beli motor di masa itu , seminggu berlangsung sang ayah memberi dukungannya diberikan gitar bermerk hingga sepatu yang pada akhirnya Tanto tak malu lagi untuk mengamen .
Bakat seni Tanto mengalir dari kedua orang tuanya ,kedua orang tuanya memang senang musik, ibundanya suka di foto, sedangkan ayahnya suka melukis ,sewaktu kecil tanto sdah punya piano tapi saying kadang dimainkan diwaktu yang tak tepat , seperti waktu waktu sholat hingga orang tuanya kadang memarahi .
Harmonica merk HERO adalah Harmonica pertama yang diberikan neneknya Rainah , pada Tanto ,neneknya sering menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan harmonica sedang bisa memainkan Gitar akibat dari pergaulan sebayanya , setelah meras bisa bermain gitar kegandrungannya pada gitar terus berlanjut .
Tidak tau persis nama Fals disandang , Tanto sebutan sehari hari dirumah biasa ibunya memanggil yang belakangan mulai dipanggil dengan nama lain “iwan” nama yang didapat dari teman teman sepergaulannya , saat Tanto mulai diterima dengan lagu lagu lucu ciptaannya dengan gitar bolong mulailah berceloteh hingga membuat teman temannya tertawa mulai saat itu Tanto mulai merasa diterima oleh teman temannya , ada beberapa versi panggilan Fals itu nyangkut di Iwan , menurut Doel Sumbang rekan sesame musisi yang tinggal di Bandung , sewaktu era 70 an mereka sempat sepanggung dalam satu penampilannya bersama itu penonton selalu meneriakan iwan dengan “fals,fals,fals versi lain lagi nama iwan didapat dari teman teman nongkronnya jika iwan bernyanyi selalu fales terdengar tapi menurut Iwan sendiri nama fals didapat dari penampilannya di PONDOK KELAPA Bandung, teman temannya memanggil dengan nama Iwan Fals , yang sebenarnya terjadi nama Iwan Fals adalah salah satu expresi kerendahan hatinya ,lebih jauh nama Fals dia bisa sembunyi , karena memang suaranya yang tak merdu dan jika jelek ga malu malui. Nama Iwan Fals disandangnya sejak dia di SMP ,teman temannya mulai menjuluki “Iwan Fals”.
Bhineka Tunggal Ika mengalir dalam diri musisi satu ini , dari diri ibundanya ada darah Solo , nenek Iwan Fals asli Sunda sedangkan buyutnya (ibunda dari neneknya Iwan) adalah asli Bali , sedangkan Kakek Iwan orang Banjarmasin . Kakek Iwan dari Ibu , semasa hidupnya adalah seorang Habib atau Kyai atau ulama terkemuka .ada orang bilang iwan keturunan Arab yang konon kakeknya asal Banjarmasin , satu ketika iwan di salah satu pesantren juga mengatakan dia ada keturunan Cina Surabaya marga Tan , ayah Iwan ,Haryoso asli Surabaya.
DARI NGAMEN KE REKAMAN
Karena kegilaan pada musik , sekolah mulai enggak bener , bolos dan pindah sekolah ,selain ngamen yang menjadi jadi apa lagi mendapatkan uang dengan keringat sendiri tentu merupakan kebahagiaan yang amat sangat, tawaran mengisi acara perkawinan ,hajatan dan sunatan ,lagu lagu karyanyapun makin banyak dan semangat ngamennya makin memuncak.
Satu ketika ada orang dari Jakarta datang ke Bandung , nah waktu itu Iwan baru sadar bahwa lagu lagunya sdah terkenal di Jakarta dalam artian lagu lagunya sdah banyak dinyanyikan anak muda di Jakarta , sebelum orang itu pindah ke Bandung , kebetulan orang tersebut punya kenalan seorang produser .Iwan sdah pernah rekaman lewat Radio 8 EH( yang sekarang sdah tidak siaran lagi) iwan buat lag uterus diputar di Radio itu atas anjuran teman temannya Iwan pergi ke Jakarta , waktu itu ia masih sekolah di SMAK BPK Bandung , demi membuat master dia rela menjual motornya , Iwan ternyata ke Jakarta tak sendirian ia bersama Toto Gunarto,Helmi,Bambang Bule atau yang tergabung dalam grup Amburadul
Nasib baik belum berpihak, ternyata album perdananya bersama Amburadul enggak laku , namun mereka enggak putus asa terkadang mereka ikut festival juga terus ngamen Dalam penampilan di TIM , Taman Ismail Marzuki pada Nopember 1979 diacara musik Nostalgia the Beatles yang diisi oleh musisi musisi dari Bnadung , dengan santai Iwan naik pentas dan membawakan lagu lagu ciptaannya hasilnya penonton tetap terhenyak dan mendapatkan applause yang mengembirakan “rasain lu gua bikin surprise !” ledek Iwan dalam hati sambil meninggalkan Pentas.
Tema yang disodorkan Iwan masih lagu lagu kritik social hanya dibalut humor ,mengenai lagunya dia berkomentar” sebenarnya saya bikin lagu tanpa niat lucu lucuan , susah saya menjawabnya kalau ditanya soal ini ,pokoknya saya membuat lagu ngalir begitu saja , saya tulis liriknya judul belakangan ,malah kadang kadang tanpa judul.Ambil gitar terus genjreng genjreng .Begitu saja saya ini orangnya buta not balok..”
Lagi lagi Iwan kembali kerumah pada tahun 1977 Iwan masuk SMA Negeri 26 tebet Jakarta selatan ,itupun sekolahnya masih saja gab ere sampai Ibunya memindahkan ke Jogya karta dan akhirnya Iwan tetap kembali ke Jakarta untuk menamatkan sekolahnya . Disaat usia menginjak 17 tahun ga banyak yang berubah , karena pergaulannya menjadi liar , menjadi kenal dengan obat obatan , megadon dan madrax , bahkan Bk hingga nyimeng . dunia hitam ini dikenal iwan sejak tahun 1976 ,melihat teman teman sepergaulan seperti itu tentu mudah saja bagi iwan untuk terpengaruh , kebanyakan dilandasi unsure pertemanan rasa tidak enak sesame pergaulan , bagi Iwan dia lakukan untuk menghormati teman-temannya.
Dalam masa masa ketergantungan dengan obat, Iwan tetap kreatif berkarya bersama grupnya Amburadul tahun 1979 mereka nekat rekaman hasilnya sebuah album bertitel “PERJALANAN “ yang dikenal dengan album “Imitasi” mulanya mereka menyodorkan album ini kesana kemari tetap ditolak produser walau kadang nasib baik ,mereka mendapatkan bayaran 750 ribu rupiah , dengan dibagi rekan rekannya masing masing 250 ribu rupiah tentu betapa senangnya Iwan Fals waktu itu , karena Orientasi Iwan waktu itu hanya bagaimana menjadi orang terkenal .walau nasib baik belum juga tiba bahwa album perdananya bersama grup Amburadul nggak laku di pasaran mereka tetap tidak putus asa masih saja selalu ikut festival dan membawakan karya karyanya..
Desember 1979, Iwan fals mewakili kota kembang Bandung dalam Lomba Musik Humor ’80 yang diselenggarakan .LEMBAGA MUSIK HUMOR INDONESIA , Taman Ismail Marzuki acara itu digelar “ saya merasa besar di kota Bandung jadi saya berhak mewakili Kota Bandung” katanya berapi api, seperti biasa Iwan tampil dengan harmonica dan gitarnya , setelah acara usai nama iwan fals disebutkan sebagai nama pemenang tetapi bukan pemenang 1,2 dan 3 ternyata Iwan hanya mendapatkan Juara harapan atau pemenang solo, karena juara 1,2,dan 3 untuk grup , apa komentar juri ketika Iwan memenangkan lomba itu, “Iwan anak sableng ini, memang punya potensi untuk berkelakar lewat musik” waktu itu Iwan membawakan lagu lagu antara lain Imitasi II , Frustasi dan Obata wet muda , Frans Hariyadi adalah juri yang menilai pada saat itu , penilaian juri waktu itu melodi dulu baru lirik dan penampilan, Iwan menyindir siapa saja yang kurang mapan duduknya .
Sebuah rumah yang terletak di jalan Masjid al Barkah no 45 dibilangan Tebet Jakarta selatan inilah Haryoso dan Lies tinggal , dikaruniai empat orang anak , keluarga ini bisa dibilang berkecukupan , apalagi Haryoso adalah seorang Perwira Tinggi , tentu urusan ekonomi keluarga itu berkecukupan.
Tahun 1961 ,tanggal 3 september , Haryoso dan Lies di karuniai seorang putra yang diberi nama Virgiawan Listanto dengan panggilan sehari hari Tanto , dikalangan keluarga Tanto dibilang pendiam sekaligus bisa menjaga nama baik keluarga .
Tanto kecil dimasa anak anak sdah terbiasa hidup dalam situasi social dimana ibundanya mempunyai banyak anak asuh , mereka dianggap adik adiknya sendiri mungkin sentuhan dan lingkungan seperti ini yang membentuk karakter Tanto menjadi peka pada persoalan manusia .
Dia tak banyak omong , bahkan kalau ngomong berhadapan dengan ibunya .Tanto tak mau menatap ibunya , dia lebih banyak menunduk dari pada bertatapan, dia begitu sangat menghargai ibunya , dihadapan sang ibu dia tidak berani berkata tidak walau mungkin hatinya mengatakan tidak tapi tak pernah terucap.
“ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku saying masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah ,penuh nanah
seperti udara kasih yang kau berikan
tak mampu ku membalas…ibu…ibu “
cukilan lirick satu lagu …Tanto yang sekarang sering kita kenal Iwan Fals sangat jelas begitulah Ibu dihatinya …………
Tujuh tahun berselang 1968 , Tanto masuk Sekolah Dasar, tak lama kemudian dikirim ibunya ke Arab Saudi tepatnya di Jeddah ia ikut KBRI selama sembilan bulan karena merasa tak betah akhirnya ia pulang ketanah air . dia di Jedaah diangkat anak oleh seorang Familli dari Ibundanya . dalam dunia olah raga Tanto sangat mennyukai SEPAK BOLA dan KARATE . pernah satu kali dia menjuarai tingkat SD se DKI kejuaraan Azdan , “ kalau azdan suaranya enak didengar , ia sangat meresapi “ puji Ibundanya satu ketika
Pelajaran agama Islam memang ditanamkan kuat oleh ibunya kepada anak anaknya termasuk Tanto ,ibunya sengaja memanggil guru untuk memberi pelajaran mengaji gurunya waktu itu bernama Al-Faridzi
Harapan Ibu dan ayahnya Tanto menjadi Insinyur Perminyakan , menjelang dewasa Tanto mulai jauh dengan ayahnya dia mulai enggak cocok , tapi jika ada masalah dia selalu mengadu pada ayahnya dulu. Baru ayahnya cerita pada ibunya , bagi Nyonya Lies dalam diri Tanto tidak ada yang namanya protes atau marah .Kalau tidak ada yang disetujuinya ea langsung nyelonong pergi .Tak banyak omong malah kalau tak perlu .dia tidak omong sama sekali .
Tanto lebih suka menjauh dari orang tuanya dalam artian mungkin untuk hidup mandiri dan tak mau terlalu terikat dengan banyak peraturan untuk itu di tahun 1970 tanto mulai sekolah SMP di kota kembang dimana kelak Kota ini sebagai cikal bakal masuk ke dunia seni SMP V BANDUNG disini Tanto bersekolah , satu hal mungkin Tanto dalam menginjak dewasa ingin menghirup udara bebas tanpa ada sesuatu yang mengekangnya , di bangku SMP boleh dibilang sekolahnya ga beres sampai dia dipindahkan Ke kota Gudeg Jogya dan akhirnya Ke Bandung lagi .
Walau belum begitu menguasai acoord gitar yang bagus Tanto sdah mulai menciptakan lagu sendiri, lagu pertama nya di beri judul AKU DAN SEKOLAH , lagu ini bercerita tentang seorang murid dan gurunya , waktu itu Tanto bersimpatik dengan salah satu murid wanita teman sekolahnya , karna satu hari seorang murid wanita ini bersekolah dengan dadandanan yang mencolok dan bergincu murid ini kena damprat gurunya, Maka disuruhnya murid ini mengambil air di ember untuk dibawa kekelas didepan teman temannya ibu guru tadi membersihkan dandannan murid wanita tadi sambil mengomel ,hingga murid wanita itu tersipu malu hingga meneteskan air mata menerima perlakuan begitu dari ibu gurunya , pada mulanya AKU DAN SEKOLAH berisikan sindiran tentang kesewang wenangan ibu guru dalam menghukum muridnya
“selamat malam kota kembang , dengan penontonnya yang auzubillah syetan “ cukilan lirick ini adalah salah satu lagu yang tak dikasetkan yang diberi judul SITI SANG BIDADARI
Kota Bandung sebagai awal mulainya ngamen …umur 13 tahun Tanto mulai mengamen di Bandung , alasannya mudah saja sebagai anak muda pingin beli rokok .pingin ngeceng juga seperti anak muda lainnya otomatis butuh duit , mengandalkan kiriman orang tuanya bagi dia amat kurang ,maka ngamenpun jadi pelariannya , denga gitar dan harmonica yang melilit lehernya maka dimulailah awal ngamen …
Dibilangan dago ,Tanto yang beranjak dewasa kos sendirian, orang tuanya tinggal di Jakarta, mulanya dia bingung ada beberapa pilihan apakah akan ngamen dari rumah kerumah atau Restoran .jelang malam ia kurang bisa tidur , untuk itu dia memutuskan untuk ngamen dari rumah kerumah , malam itu dengan kaos oblong dan sepatu butut dia memutuskan untuk mengamen , keesokkan harinya ia mulai menempatkan jalan Dago dengan penampilan yang unik dia mengamen sambil menyembunyikan wajahnya dengan tempat kukusan nasi yang diberi dua lubang untuk matanya, maka terdengarlah lagu lagu Bob Dylan idolanya disamping lagu lagu ciptaanya , tak jarang uamg logam 10 perak, Rp 25, Rp 50,- diterimanya satu hari dia sampai mendapatkan Rp 5000,- kadang Rp 2000,- hingga Rp 300,- pernah ia terima , uang ngamen ini dia gunakan untuk jajan, dan beli sepatu serta tali gitar hingga beli motor di masa itu , seminggu berlangsung sang ayah memberi dukungannya diberikan gitar bermerk hingga sepatu yang pada akhirnya Tanto tak malu lagi untuk mengamen .
Bakat seni Tanto mengalir dari kedua orang tuanya ,kedua orang tuanya memang senang musik, ibundanya suka di foto, sedangkan ayahnya suka melukis ,sewaktu kecil tanto sdah punya piano tapi saying kadang dimainkan diwaktu yang tak tepat , seperti waktu waktu sholat hingga orang tuanya kadang memarahi .
Harmonica merk HERO adalah Harmonica pertama yang diberikan neneknya Rainah , pada Tanto ,neneknya sering menyanyikan lagu Bengawan Solo dengan harmonica sedang bisa memainkan Gitar akibat dari pergaulan sebayanya , setelah meras bisa bermain gitar kegandrungannya pada gitar terus berlanjut .
Tidak tau persis nama Fals disandang , Tanto sebutan sehari hari dirumah biasa ibunya memanggil yang belakangan mulai dipanggil dengan nama lain “iwan” nama yang didapat dari teman teman sepergaulannya , saat Tanto mulai diterima dengan lagu lagu lucu ciptaannya dengan gitar bolong mulailah berceloteh hingga membuat teman temannya tertawa mulai saat itu Tanto mulai merasa diterima oleh teman temannya , ada beberapa versi panggilan Fals itu nyangkut di Iwan , menurut Doel Sumbang rekan sesame musisi yang tinggal di Bandung , sewaktu era 70 an mereka sempat sepanggung dalam satu penampilannya bersama itu penonton selalu meneriakan iwan dengan “fals,fals,fals versi lain lagi nama iwan didapat dari teman teman nongkronnya jika iwan bernyanyi selalu fales terdengar tapi menurut Iwan sendiri nama fals didapat dari penampilannya di PONDOK KELAPA Bandung, teman temannya memanggil dengan nama Iwan Fals , yang sebenarnya terjadi nama Iwan Fals adalah salah satu expresi kerendahan hatinya ,lebih jauh nama Fals dia bisa sembunyi , karena memang suaranya yang tak merdu dan jika jelek ga malu malui. Nama Iwan Fals disandangnya sejak dia di SMP ,teman temannya mulai menjuluki “Iwan Fals”.
Bhineka Tunggal Ika mengalir dalam diri musisi satu ini , dari diri ibundanya ada darah Solo , nenek Iwan Fals asli Sunda sedangkan buyutnya (ibunda dari neneknya Iwan) adalah asli Bali , sedangkan Kakek Iwan orang Banjarmasin . Kakek Iwan dari Ibu , semasa hidupnya adalah seorang Habib atau Kyai atau ulama terkemuka .ada orang bilang iwan keturunan Arab yang konon kakeknya asal Banjarmasin , satu ketika iwan di salah satu pesantren juga mengatakan dia ada keturunan Cina Surabaya marga Tan , ayah Iwan ,Haryoso asli Surabaya.
DARI NGAMEN KE REKAMAN
Karena kegilaan pada musik , sekolah mulai enggak bener , bolos dan pindah sekolah ,selain ngamen yang menjadi jadi apa lagi mendapatkan uang dengan keringat sendiri tentu merupakan kebahagiaan yang amat sangat, tawaran mengisi acara perkawinan ,hajatan dan sunatan ,lagu lagu karyanyapun makin banyak dan semangat ngamennya makin memuncak.
Satu ketika ada orang dari Jakarta datang ke Bandung , nah waktu itu Iwan baru sadar bahwa lagu lagunya sdah terkenal di Jakarta dalam artian lagu lagunya sdah banyak dinyanyikan anak muda di Jakarta , sebelum orang itu pindah ke Bandung , kebetulan orang tersebut punya kenalan seorang produser .Iwan sdah pernah rekaman lewat Radio 8 EH( yang sekarang sdah tidak siaran lagi) iwan buat lag uterus diputar di Radio itu atas anjuran teman temannya Iwan pergi ke Jakarta , waktu itu ia masih sekolah di SMAK BPK Bandung , demi membuat master dia rela menjual motornya , Iwan ternyata ke Jakarta tak sendirian ia bersama Toto Gunarto,Helmi,Bambang Bule atau yang tergabung dalam grup Amburadul
Nasib baik belum berpihak, ternyata album perdananya bersama Amburadul enggak laku , namun mereka enggak putus asa terkadang mereka ikut festival juga terus ngamen Dalam penampilan di TIM , Taman Ismail Marzuki pada Nopember 1979 diacara musik Nostalgia the Beatles yang diisi oleh musisi musisi dari Bnadung , dengan santai Iwan naik pentas dan membawakan lagu lagu ciptaannya hasilnya penonton tetap terhenyak dan mendapatkan applause yang mengembirakan “rasain lu gua bikin surprise !” ledek Iwan dalam hati sambil meninggalkan Pentas.
Tema yang disodorkan Iwan masih lagu lagu kritik social hanya dibalut humor ,mengenai lagunya dia berkomentar” sebenarnya saya bikin lagu tanpa niat lucu lucuan , susah saya menjawabnya kalau ditanya soal ini ,pokoknya saya membuat lagu ngalir begitu saja , saya tulis liriknya judul belakangan ,malah kadang kadang tanpa judul.Ambil gitar terus genjreng genjreng .Begitu saja saya ini orangnya buta not balok..”
Lagi lagi Iwan kembali kerumah pada tahun 1977 Iwan masuk SMA Negeri 26 tebet Jakarta selatan ,itupun sekolahnya masih saja gab ere sampai Ibunya memindahkan ke Jogya karta dan akhirnya Iwan tetap kembali ke Jakarta untuk menamatkan sekolahnya . Disaat usia menginjak 17 tahun ga banyak yang berubah , karena pergaulannya menjadi liar , menjadi kenal dengan obat obatan , megadon dan madrax , bahkan Bk hingga nyimeng . dunia hitam ini dikenal iwan sejak tahun 1976 ,melihat teman teman sepergaulan seperti itu tentu mudah saja bagi iwan untuk terpengaruh , kebanyakan dilandasi unsure pertemanan rasa tidak enak sesame pergaulan , bagi Iwan dia lakukan untuk menghormati teman-temannya.
Dalam masa masa ketergantungan dengan obat, Iwan tetap kreatif berkarya bersama grupnya Amburadul tahun 1979 mereka nekat rekaman hasilnya sebuah album bertitel “PERJALANAN “ yang dikenal dengan album “Imitasi” mulanya mereka menyodorkan album ini kesana kemari tetap ditolak produser walau kadang nasib baik ,mereka mendapatkan bayaran 750 ribu rupiah , dengan dibagi rekan rekannya masing masing 250 ribu rupiah tentu betapa senangnya Iwan Fals waktu itu , karena Orientasi Iwan waktu itu hanya bagaimana menjadi orang terkenal .walau nasib baik belum juga tiba bahwa album perdananya bersama grup Amburadul nggak laku di pasaran mereka tetap tidak putus asa masih saja selalu ikut festival dan membawakan karya karyanya..
Desember 1979, Iwan fals mewakili kota kembang Bandung dalam Lomba Musik Humor ’80 yang diselenggarakan .LEMBAGA MUSIK HUMOR INDONESIA , Taman Ismail Marzuki acara itu digelar “ saya merasa besar di kota Bandung jadi saya berhak mewakili Kota Bandung” katanya berapi api, seperti biasa Iwan tampil dengan harmonica dan gitarnya , setelah acara usai nama iwan fals disebutkan sebagai nama pemenang tetapi bukan pemenang 1,2 dan 3 ternyata Iwan hanya mendapatkan Juara harapan atau pemenang solo, karena juara 1,2,dan 3 untuk grup , apa komentar juri ketika Iwan memenangkan lomba itu, “Iwan anak sableng ini, memang punya potensi untuk berkelakar lewat musik” waktu itu Iwan membawakan lagu lagu antara lain Imitasi II , Frustasi dan Obata wet muda , Frans Hariyadi adalah juri yang menilai pada saat itu , penilaian juri waktu itu melodi dulu baru lirik dan penampilan, Iwan menyindir siapa saja yang kurang mapan duduknya 

Sumber : Badan Pengurus Oi Tanggerang Selatan

Download video klip lagu Iwan Fals - Luka

                                   
                                                              DOWNLOAD

Lagu Iwan Fals dengan judul air mata




                                                       DOWNLOAD

Kumpulan kata-kata bermakna dari lirik lagu iwan fals

1. “Berhentilah jangan salah gunakan, kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan”.

(Puing – album Sarjana Muda 1981)

2. “Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu”.

(Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – album Sarjana Muda 1981)

3. “Cepatlah besar matahariku, menangis yang keras janganlah ragu, hantamlah sombongnya dunia buah hatiku, doa kami dinadimu”.

(Galang Rambu Anarki – album Opini 1982)

4. “Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh”.

(Maaf Cintaku - album Sugali 1984)

5. “Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila luka di kaki belum terobati”.

(Berkacalah Jakarta - album Sugali 1984)

6. “Riak gelombang suatu rintangan, ingat itu pasti kan datang, karang tajam sepintas seram, usah gentar bersatu terjang”.

(Cik - album Sore Tugu Pancoran 1985)

7. “Aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti, entah”.

(Entah - album Ethiopia 1986)

8. “Mengapa bunga harus layu?, setelah kumbang dapatkan madu, mengapa kumbang harus ingkar?, setelah bunga tak lagi mekar”.

(Bunga-Bunga Kumbang-Kumbang - album Ethiopia 1986)

9. “Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah”.

(Ya Ya Ya Oh Ya - album Aku Sayang Kamu 1986)

10. “Dalam hari selalu ada kemungkinan, dalam hari pasti ada kesempatan”.

(Selamat Tinggal Malam - album Aku Sayang Kamu 1986)

--------------------------------------------------------

11. “Kota adalah hutan belantara akal kuat dan berakar, menjurai didepan mata siap menjerat leher kita”.

(Kota - album Aku Sayang Kamu 1986)

12. “Jangan kita berpangku tangan, teruskan hasil perjuangan dengan jalan apa saja yang pasti kita temukan”.

(Lancar - album Lancar 1987)

13. “Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam”.

(Surat Buat Wakil Rakyat - album Wakil Rakyat 1987)

14. “Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang, segala sesuatu ada harga karena uang”.

(Nak - album 1910 1988)

15. “Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti sampai habis terjual harga diri”.

(Mimpi Yang Terbeli - album 1910 1988)

16. “Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.

(Ibu - album 1910 1988)

17. “Memang usia kita muda namun cinta soal hati, biar mereka bicara telinga kita terkunci”.

(Buku Ini Aku Pinjam - album 1910 1988)

18. “Dendam ada dimana mana di jantungku, di jantungmu, di jantung hari-hari”.

(Ada Lagi Yang Mati - album 1910 1988)

19. “Hangatkan tubuh di cerah pagi pada matahari, keringkan hati yang penuh tangis walau hanya sesaat”.

(Perempuan Malam - album Mata Dewa 1989)

20. “Kucoba berkaca pada jejak yang ada, ternyata aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal”.

(Nona - album Mata Dewa 1989)

--------------------------------------------------------

21. “Oh ya! ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku, oh ya! ya takdir, takdirmu jelas bukan takdirku”.

(Oh Ya! - album Swami 1989)

22. “Wahai kawan hei kawan, bangunlah dari tidurmu, masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama, buanglah mimpi-mimpi”.

(Eseks eseks udug udug (Nyanyian Ujung Gang) - album Swami 1989)

23. “Api revolusi, haruskah padam digantikan figur yang tak pasti?”.

(Condet - album Swami 1989)

24. “Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang”.

(Bongkar - album Swami 1989)

25. “Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan”.

(Bongkar - album Swami 1989)

26. “Orang tua pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta”.

(Bongkar - album Swami 1989)

27. “Satu luka perasaan, maki puji dan hinaan, tidak merubah sang jagoan menjadi makhluk picisan”.

(Rajawali - album Kantata Takwa 1990)

28. “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata kata”.

(Paman Doblang - album Kantata Takwa 1990)

29. “Mereka yang pernah kalah, belum tentu menyerah”.

(Orang-Orang Kalah - album Kantata Takwa 1990)

30. “Aku rasa hidup tanpa jiwa, orang yang miskin ataupun kaya sama ganasnya terhadap harta”.

(Nocturno - album Kantata Takwa 1990)

--------------------------------------------------------

31. “Orang orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi”.

(Kesaksian - album Kantata Takwa 1990)

32. “Ingatlah Allah yang menciptakan, Allah tempatku berpegang dan bertawakal, Allah maha tinggi dan maha esa, Allah maha lembut”.

(Kantata Takwa - album Kantata Takwa 1990)

33. “Kebimbangan lahirkan gelisah, jiwa gelisah bagai halilintar”.

(Gelisah - album Kantata Takwa 1990)

34. “Bagaimanapun aku harus kembali, walau berat aku rasa kau mengerti”.

(Air Mata - album Kantata Takwa 1990)

35. “Alam semesta menerima perlakuan sia sia, diracun jalan napasnya diperkosa kesuburannya”.

(Untuk Bram - album Cikal 1991)

36. “Duhai langit, duhai bumi, duhai alam raya, kuserahkan ragaku padamu, duhai ada, duhai tiada, duhai cinta, ku percaya”.

(Pulang Kerja - album Cikal 1991)

37. “Dimana kehidupan disitulah jawaban”.

(Alam Malam - album Cikal 1991)

38. “Ada dan tak ada nyatanya ada”.

(Ada - album Cikal 1991)

39. “Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri”.

(Nyanyian Jiwa - album Swami Il 1991)

40. “Aku mau jujur jujur saja, bicara apa adanya, aku tak mau mengingkari hati nurani”.

(Hio - album Swami Il 1991)

--------------------------------------------------------

41. “Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta walau aku tahu tak terdengar, jariku menari tetap tak akan berhenti sampai wajah tak murung lagi”.

(Di Mata Air Tidak Ada Air Mata - album Belum Ada Judul 1992)

42. “Mengapa besar selalu menang?, bebas berbuat sewenang wenang, mengapa kecil selalu tersingkir?, harus mengalah dan menyingkir”.

(Besar Dan Kecil - album Belum Ada Judul 1992)

43. “Angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda mengusik ingatanku, aku ingat mimpiku, aku ingat harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung”.

(Aku Disini - album Belum Ada Judul 1992)

44. “Jalani hidup, tenang tenang tenanglah seperti karang”.

(Lagu Satu - album Hijau 1992)

45. “Sebentar lagi kita akan menjual air mata kita sendiri, karena air mata kita adalah air kehidupan”.

(Lagu Dua - album Hijau 1992)

46. “Kita harus mulai bekerja, persoalan begitu menantang, satu niat satulah darah kita, kamu adalah kamu aku adalah aku”.

(Lagu Tiga - album Hijau 1992)

47. “Kenapa kebenaran tak lagi dicari?, sudah tak pentingkah bagi manusia?”

(Lagu Empat- album Hijau 1992)

48. “Kenapa banyak orang ingin menang?, apakah itu hasil akhir kehidupan?”.

(Lagu Empat- album Hijau 1992)

49. “Anjingku menggonggong protes pada situasi, hatiku melolong protes pada kamu”.

(Lagu Lima - album Hijau 1992)

50. “Biar keadilan sulit terpenuhi, biar kedamaian sulit terpenuhi, kami berdiri menjaga dirimu”.

(Karena Kau Bunda Kami - album Dalbo 1993)
51. “Apa jadinya jika mulut dilarang bicara?, apa jadinya jika mata dilarang melihat?, apa jadinya jika telinga dilarang mendengar?, jadilah robot tanpa nyawa yang hanya mengabdi pada perintah”.

(Hura Hura Huru Hara - album Dalbo 1993)

52. “Tertawa itu sehat, menipu itu jahat”.

(Hua Ha Ha - album Dalbo 1993)

53. “Nyanyian duka nyanyian suka, tarian duka tarian suka, apakah ada bedanya?”

(Terminal – single 1994)

54. “Waktu terus bergulir, kita akan pergi dan ditinggal pergi”.

(Satu Satu – album Orang Gila 1994)

55. “Pelan-pelan sayang kalau mulai bosan, jangan marah-marah nanti cepat mati, santai sajalah”.

(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album Orang Gila 1994)

56. “Mau insaf susah, desa sudah menjadi kota”.

(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album Orang Gila 1994)

57. “Pertemuan dan perpisahan, dimana awal akhirnya?, dimana bedanya?”.

(Doa Dalam Sunyi – album Orang Gila 1994)

58. “Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja”.

(Awang Awang – album Orang Gila 1994)

59. “Bagaimana bisa mengerti?, sedang kita belum berpikir, bagaimana bisa dianggap diam?, sedang kita belum bicara”.

(Awang Awang – album Orang Gila 1994)

60. “Aku bukan seperti nyamuk yang menghisap darahmu, aku manusia yang berbuat sesuai aturan dan keinginan”.

(Nasib Nyamuk – album Anak Wayang 1994)

--------------------------------------------------------

61. “Oh susahnya hidup, urusan hati belum selesai, rumah tetangga digusur raksasa, pengusaha zaman merdeka”.

(Oh – single 1995)

62. “Aku disampingmu begitu pasti, yang tak kumengerti masih saja terasa sepi”.

(Mata Hati – album Mata Hati 1995)

63. “Sang jari menari jangan berhenti, kupasrahkan diriku digenggaman-Mu”.

(Lagu Pemanjat – album Lagu Pemanjat 1996)

64. “Lepaslah belenggu ragu yang membelit hati, melangkah dengan pasti menuju gerbang baru”.

(Songsonglah – album Kantata Samsara 1998)

65. “Berani konsekuen pertanda jantan”.

(Nyanyian Preman – album Kantata Samsara 1998)

66. “Dengarlah suara bening dalam hatimu, biarlah nuranimu berbicara”.

(Langgam Lawu – album Kantata Samsara 1998)

67. “Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian”.

(Lagu Buat Penyaksi – album Kantata Samsara 1998)

68. “Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut, walau hati panas bahkan terbakar sekalipun”.

(Di Ujung Abad - album Suara Hati 2002)

69. “Jangan goyah percayalah teman perang itu melawan diri sendiri, selamat datang kemerdekaan kalau kita mampu menahan diri”.

(Dendam Damai - album Suara Hati 2002)

70. “Berdoalah sambil berusaha, agar hidup jadi tak sia-sia”.

(Doa - album Suara Hati 2002)

--------------------------------------------------------

71. “Harta dunia jadi penggoda, membuat miskin jiwa kita”.

(Seperti Matahari - album Suara Hati 2002)

72. “Memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi”.

(Seperti Matahari - album Suara Hati 2002)

73. “Jangan heran korupsi menjadi jadi, habis itulah yang diajarkan”.

(Politik Uang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

74. “Gelombang cinta gelombang kesadaran merobek langit yang mendung, menyongsong hari esok yang lebih baik”.

(Para Tentara – album Manusia Setengah Dewa 2004)

75. “Terhadap yang benar saja sewenang wenang, apalagi yang salah”.

(Mungkin – album Manusia Setengah Dewa 2004)

76. “Begitu mudahnya nyawa melayang, padahal tanpa diundang pun kematian pasti datang”.

(Matahari Bulan Dan Bintang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

77. “Dunia kita satu, kenapa kita tidak bersatu?”.

(Matahari Bulan Dan Bintang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

78. “Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau”.

(Manusia Setengah Dewa – album Manusia Setengah Dewa 2004)

79. “Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung”.

(Desa – album Manusia Setengah Dewa 2004)

80. “Tutup lubang gali lubang falsafah hidup jaman sekarang”.

(Dan Orde Paling Baru – album Manusia Setengah Dewa 2004)

--------------------------------------------------------

81. “Buktikan buktikan!, kalau hanya omong burung beo pun bisa”.

(Buktikan – album Manusia Setengah Dewa 2004)

82. “Dunia politik dunia bintang, dunia hura hura para binatang”.

(Asik Nggak Asik – album Manusia Setengah Dewa 2004)

83. “Dewa-dewa kerjanya berpesta, sambil nyogok bangsa manusia”.

(17 Juli 1996 – album Manusia Setengah Dewa 2004)

84. “Tanam-tanam pohon kehidupan, siram siram sirami dengan sayang, tanam tanam tanam masa depan, benalu-benalu kita bersihkan”.

(Tanam-Tanam Siram-Siram – single 2006)

85. “Ada apa gerangan mengapa mesti tergesa gesa, tak bisakah tenang menikmati bulan penuh dan bintang”.

(Haruskah Pergi – 2006)

86. “Persoalan hidup kalau diikuti tak ada habisnya, soal lama pergi soal baru datang”.

(Selancar – 2006)

87. “Jaman berubah perilaku tak berubah, orang berubah tingkah laku tak berubah”.

(Rubah – album 50:50 2007)

88. “Satu hilang seribu terbilang, patah tumbuh hilang berganti”.

(Pulanglah – album 50:50 2007)

89. “Hidup ini indah berdua semua mudah, yakinlah melangkah jangan lagi gelisah”.

(KaSaCiMa – album 50:50 2007)

90. “Tak ada yang lepas dari kematian, tak ada yang bisa sembunyi dari kematian, pasti”.

(Ikan-Ikan – album 50:50 2007)

--------------------------------------------------------

91. “Ada kamu yang mengatur ini semua tapi rasanya percuma, ada juga yang janjikan indahnya surga tapi neraka terasa”.

(Cemburu – album 50:50 2007)

92. “Hukum alam berjalan menggilas ludah, hukum Tuhan katakan “Sabar!”.

(Kemarau – uncassette)

93. “Yang pasti hidup ini keras, tabahlah terimalah”.

(Joned – uncassette)

94. “Oh negeriku sayang bangkit kembali, jangan berkecil hati bangkit kembali”.

(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

95. “Oh yang ditinggalkan tabahlah sayang, ini rahmat dari Tuhan kita juga pasti pulang”.

(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

96. “Tuhan ampunilah kami, ampuni dosa-dosa kami, ampuni kesombongan kami, ampuni bangsa kami, terimalah disisi-Mu korban bencana ini”.

(Saat Minggu Masih Pagi – uncassette)

97. “Nyatakan saja apa yang terasa walau pahit biasanya, jangan disimpan jangan dipendam, merdekakan jiwa”.

(Nyatakan Saja – uncassette)

98. “Usiamu tak lagi muda untuk terus terusan terjajah, jangan lagi membungkuk bungkuk agar dunia mengakuimu”.

(Merdeka – uncassette)

99. “Kau paksa kami untuk menahan luka ini, sedangkan kau sendiri telah lupa”.

(Luka Lama – uncassette)

100. “Oh Tuhan tolonglah, lindungi kami dari kekhilafan, oh ya Tuhan tolonglah, Ramadhan mengetuk hati orang orang yang gila perang”.
(Selamat Tinggal Ramadhan – uncassette) 
source: http://www.i-dus.com/2010/08/100-kalimat-mahal-dalam-lirik-lagu-iwan.html

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | contact us